Galatia 3:15-29 "Hukum Taurat Atau Janji" // MTPJ 19 - 25 Juli 2026
GALATIA 3:15-29 “HUKUM TAURAT ATAU JANJI”
Dalam permainan Sepak Bola terdiri dari 11 pemain
dengan masing-masing memiliki perannya sendiri, ada penjaga gawang, ada back,
ada pemain Tengah serta ada striker atau penyerang. Ketika semuanya hanya fokus
pada tugasnya sendiri tanpa ada saling kerja sama tentu akan sulit untuk meraih
kemenangan, tetapi dengan menyadari tugas sambil saling bekerja sama dengan
baik tentu akan menghasilkan suatu tim yang kuat. Ilustrasi ini menjadi
gambaran yang ada dalam kehidupan jemaat yang ada di Galatia, sebab rupanya
perbedaan di antara jemaat membuat anggapan bahwa orang bersunat layak
diselamatkan sementara yang lain tidak diselamatkan. Kisah Para Rasul 16 &
18 mencatat bahwa Paulus pernah berkunjung di Galatia dan banyak penafsir menyebut
bahwa Paulus dan teman-temannya yang menjadi pelopor Injil pertama di Galatia. Seiring
berjalannya waktu Galatia 1:6 Paulus menyebut bahwa ternyata jemaat Galatia
begitu cepat berpaling pada injil yang lain. Injil yang lain yang dimaksudkan
Paulus adalah ajaran yang bertentangan dengan pengajaran bahwa keselamatan
hanya ada di dalam Yesus Kristus. Jemaat Galatia masih mempersoalkan tentang
Hukum Taurat terutama persoalan sunat dan tak bersunat yang tentu saja memberi
masalah terhadap jemaat. Oleh karena itu 3 hal utama dalam Galatia 3:15-29 ini
berbicara tentang:
1.
Hukum
Taurat bukanlah sumber keselamatan.
2.
Janji
berkat Allah melalui Abraham telah digenapi di dalam Yesus Kristus.
3. Di
dalam Yesus tidak ada lagi perbedaan.
Galatia 3:15-29 Paulus dengan jelas memberikan
penjelasan tentang perbedaan antara Hukum Taurat dan Janji. Untuk itu, agar
kita dimampukan untuk mengenal bagian Firman ini, maka mari kita lihat latar
belakang dari Hukum Taurat dan Janji. Saudara-saudaraku, dalam Kitab Kejadian
pasal 22 menceritakan tentang Kisah Abraham yang dengan rela hati mau
mempersembahkan anak yang begitu ia kasihi yakni Ishak kepada Tuhan. Melihat
tindakan iman Abraham Kej. 22:16 mencatat bahwa Allah berfirman kepada Abraham:
”karena engkau tidak segan-segan menyerahkan anakmu yang tunggal kepadaku”. Di
sini sangat jelas bahwa Abraham adalah hamba Tuhan yang tidak setengah-setengah
untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan, Abraham tidak mempertanyakan maksud
Tuhan, itulah tindakan iman sejati. Iman bukan hanya sekedar pengakuan dalam
ucapan, tetapi iman mencakup pengakuan dalam tindakan. Kejadian 22:18 mencatat ”oleh karena
keturunanmu semua bangsa di bumi menjadi berkat”. Kata ”keturunan” dalam teks
tersebut merujuk pada kata benda tunggal. Inilah janji yang kemudian oleh
Paulus dalam Galatia 3:16 menyebut ”keturunan yang menjadi berkat” itu menunjuk
kepada Yesus.
Jauh sesudah masa Abraham, tepatnya nanti pada
masa Musa kemudian muncullah yang disebut ”Hukum Taurat”. Galatia 3:17 menyebut
bahwa Hukum Taurat nanti muncul 430 tahun kemudian. Angka ini sepertinya
merujuk pada lamanya orang Israel berada di Mesir. Keluaran 12:40 & 41
menyebut 430 lamanya Israel ada di Mesir. Sesudah Israel keluar dari Mesir maka
melalui Musa Allah menetapkan Hukum Taurat. Roma 3:20; 7:7 menyatakan bahwa
Hukum Taurat diberikan untuk menyatakan bahwa manusia adalah orang berdosa.
Tanpa hukum manusia tidak menyadari sepenuhnya dosanya. Dari hal ini setiap
manusia diingatkan bahwa Hukum Taurat tidaklah menghidupkan manusia, karena
justru Hukum Taurat seperti dalam Galatia 3:19 yang mengingatkan bahwa Hukum
Taurat ditambahkan karena pelanggaran-pelanggaran sampai datang penggenapan
janji, itu berarti Hukum Taurat menuntun setiap orang pada Kristus. Kristus
adalah penggenapan janji Allah terhadap Abraham, sebab oleh Kristuslah maka
setiap orang dibenarkan untuk memperoleh keselamatan. Hukum Taurat menuntut
setiap orang untuk berlaku sempurna dalam melakukan segala ketetapan dan
perintah Allah, namun disadari bahwa tidak ada seorangpun yang sempurna di
hadapan Allah. Kita dibenarkan karena Allah yang menggenapi janji-Nya, Allah
memberkati semua orang di dalam Yesus Kristus. Oleh karena itu keselamatan di
dalam Tuhan bukan karena usaha manusia, bukan karena melakukan hukum Taurat,
tetapi keselamatan itu karena anugerah Allah, maka tidak ada lagi perbedaan
bahwa orang bersunat lebih diselamatkan dari pada yang tidak bersunat, dan
anggapan bahwa orang Yahudi lebih diselamatkan dari pada orang non Yahudi serta
segala jenis perbedaan lainnya.
Firman ini mengajarkan kita bahwa di hadapan Tuhan
kita semua sama, yang berbeda hanyalah cara pandang kita terhadap orang lain.
Terkadang tanpa kita ketahui kita telah berusaha membatasi kasih karunia Allah
dengan menganggap bahwa kita lebih hebat dari pada orang lain atau kita lebih
layak dari pada orang lain. Perenungan ini mengajak kita untuk berefleksi
tentang pentingnya persatuan, kita semua adalah satu di dalam Kristus maka
jangan ada yang berusaha untuk membeda-bedakan. Demikian juga dengan hukum
Taurat, hukum yang ditetapkan Tuhan dibuat agar kita tidak menjadi manusia yang
semaunya sebab hukum Taurat menuntun kita untuk berbuat benar di hadapan Tuhan.
Dalam bergereja, Tata Gereja juga dibuat bukan sebagai pengganti aturan yang
menggantikan Firman Tuhan, justru Tata Gereja dibuat harus didasari oleh Firman
Tuhan. Mari ingat 3 hal ini:
Yang pertama, segala peraturan dari Tuhan bukanlah agar kita selamat, sebab
peraturan itu dibuat untuk mengingatkan kita bahwa kita sudah diselamatkan,
maka lakukanlah perintah Tuhan dengan rela hati, dengan sukacita bahwa Allah
telah memberkati kita.
Yang kedua, keselamatan bukanlah hasil dari sikap manusia, sebab
keselamatan adalah anugerah Allah yang telah menepati janji berkat yang telah disampaikan
bahkan melalui Abraham.
Yang ketiga, janganlah kita saling membedakan apalagi menjatuhkan satu
dengan yang lainnya. Ingat manusia kadang membeda-bedakan satu dengan yang
lainnya, tetapi di hadapan Allah semua adalah satu.
Di akhir-akhir ini kita sedang dipersiapkan siapa
yang menjadi pelayan Tuhan, seperti dalam permainan bola, bola itu harus dibawa
sampai ke gawang lawan, tapi ingat ketika menggiring bola jika memang sudah
waktunya untuk di ”ovor” kepada teman, maka jangan tahan-tahan apalagi
mempersulit orang lain. Bekerja samalah dengan benar, hargailah setiap
perbedaan yang ada, hiduplah dalam kasih karunia Allah. Tuhan Yesus menolong
kita semua. Amin.

Komentar
Posting Komentar