MTPJ GMIM 24-30 Mei 2026 // Kisah Para Rasul 2:29-40 "Khotbah Petrus"

Kisah Para Rasul 2:29-40

Kitab Kisah Para Rasul merupakan catatan seorang yang bernama dokter Lukas yang juga menuliskan kitab Injil Lukas. Kedua tulisannya sama-sama ditujukan kepada "Teofilus". Ada anggapan bahwa Teogilus ini adalah seorang yang cukup terpandang dan mampu menjaga dokumen catatan Lukas, namun ada juga yang menganggap bahwa nama Teofilus sebenarnya merujuk kepada semua orang percaya, sebab arti nama Teofilus adalah "Teo" artinya Tuhan dan Filus dari kata "philia". Jadi nama Teofilus bermana sahabat-sahabat Allah yang menandakan kepada semua orang percaya. 

Pentakosta bukanlah hari ketuangan Roh Kudus, namun pada hari Pentakosta Roh Kudus turun memenuhi murid-murid Yesus. Peringatan tersebut adalah salah satu peristiwa penting dalam kekristenan yang diperingati 50 hari setelah Paskah. Kata “Pentakosta” berasal dari bahasa Yunani PentÄ“kostÄ“ yang berarti “hari kelima puluh”. Awalnya, Pentakosta merupakan hari raya Yahudi yang dikenal sebagai Hari Raya Tujuh Minggu (Shavuot), yaitu perayaan syukur atas panen dan juga peringatan pemberian hukum Taurat kepada Musa di Gunung Sinai. Perayaan ini dilakukan 50 hari setelah Paskah Yahudi.

Pada momen tersebut, orang-orang  Yahudi Diaspora, yakni orang-orang Yahudi yang telah terserak ke berbagai daerah akan datang ke Yerusalem untuk merayakan hari tersebut. Perlu diingat bahwa orang-orang Yahudi tersebut tidak lagi menggunakan bahasa Ibrani, sebab mereka telah menggunakan bahasa di mana mereka tinggal. Oleh karena  itu Kisah Para Rasul 2 mencatat bahwa di tempat tersebut ada berbagai macam bahasa yakni Partia, Media, Elam, Penduduk Mesopotamia, Yudea, Kapadokia, Pontus, Asia, Frigia, Pamfilia, Mesir, daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, orang Kreta dan orang Arab. Dalam tradisi Kristen, Hari Pentakosta menjadi sangat penting karena pada hari itulah Roh Kudus turun atas para murid Yesus. Peristiwa ini dicatat dalam Alkitab pasal 2:1–4. Saat para murid berkumpul di Yerusalem, tiba-tiba terdengar bunyi seperti tiupan angin keras dan tampak lidah-lidah seperti api hinggap pada mereka. Setelah itu mereka dipenuhi Roh Kudus dan mulai berbicara dalam berbagai bahasa.

Setelah menerima Roh Kudus, para rasul menjadi berani memberitakan Injil kepada banyak bangsa. Khotbah Petrus pada hari itu membuat ribuan orang bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus. Peristiwa ini dianggap sebagai awal lahirnya gereja Kristen.

Dalam peristiwa ini ada 2 hal yang mengingatkan kita tentang Momen Ketuangan Roh Kudus:

1.      Secara teologis, Hari Pentakosta menunjukkan penggenapan janji Yesus tentang datangnya Penolong atau Roh Kudus yang akan menyertai orang percaya. Hal ini sesuai dengan perkataan Yesus dalam Yohanes 14:16–17 dan Kisah Para Rasul 1:8.

2.      Roh Kudus memampukan murid-murid Yesus yang tadinya mengalami ketakutan kemudian memiliki keberanian untuk tampil di depan banyak orang dan memberitakan tentang Yesus Kristus. Karena itu, Pentakosta dipahami sebagai simbol kuasa, penyertaan, dan pembaruan hidup oleh Roh Kudus bagi gereja dan orang percaya.

Selanjutnya, dalam Kisah Para Rasul pasal 2 ayat 14-28 mencatat tentang Petrus yang berkhotbah dengan suara nyaring kepada semua orang Yahudi. Jika kita ingat peristiwa ketika Yesus ditangkap, kita pasti tahu bagaimana sikap Petrus terhadap Yesus, Petrus mengalami ketakutan bahkan karena itu ia menyangkal bahwa ia juga adalah pengikut Yesus. Berbeda keadaannya ketika Petrus dikuasai Roh Kudus, ia menjadi begitu berani dan mampu tampil di depan banyak orang, inilah salah satu kerja Roh Kudus yang memampukan apa yang tidak mampu dilakukan manusia. Perlu kita ingat bahwa, orang Yahudi menantikan Mesias yang dalam paham mereka mesias tersebut adalah dari keturunan Daud dan akan berkuasa seperti masa Daud ketika Israel tidak terpecah dan ketika Israel menjadi bangsa yang disegani. Maka dalam teks Kisah Para Rasul 2:29-40 kemudian membandingkan antara Daud dan Yesus.

Ayat 29 Petrus menyebut bahwa Daud yang adalah bapa leluhur Israel yang sangat dibanggakan Israel adalah sosok manusia biasa, bahwa ia telah mati dan dikuburkan, itu terbukti dengan adanya kuburan Daud. Meski demikian, ayat 30 mencatat bahwa Daud tahu bahwa Allah akan mendudukkan seorang dari keturunannya sendiri untuk berada di atas takhtanya dan itu adalah Mesias, Raja yang diurapi, yang tidak akan dikuasai oleh kematian. Ini merupakan catatan yang sama dicatat oleh Injil Matius 1:1-17 tentang silsilah Yesus Kristus bahwa Yesus benar-benar adalah keturunan Daud, dan Yesus itulah yang tidak selamanya dalam kematian, sebab kematian tidak berkuasa atas-Nya. Petrus menyebut bahwa baik Petrus maupun murid-murid Yesus yang lain adalah saksi dari peristiwa kebangkitan Yesus Kristus. Kata ”saksi” dari kata martus atau martur yang dari kata ini kita juga mengenal kata ”martir” yakni orang yang bersedia mati demi apa yang ia nyatakan. Itu berarti, Petrus bahkan siap menerima resiko apa saja demi untuk kesaksiannya mengenai Yesus Kristus. Dan sesudah kesemuanya itu maka terjadilah pencurahan Roh Kudus.

Dalam teks ini secara mendalam Petrus menekankan bahwa, Yesus bukan sekedar keturunan Daud, tetapi Yesus adalah penggenapan janji Allah, bahwa Dialah Kristus atau Sang Mesias, dan Dialah Tuhan. Inilah pengakuan iman Petrus tentang siapa Yesus, ingat bahwa Petrus mampu melakukan hal tersebut karena Roh Kudus yang memberanikan dan memampukan ia.

Ayat 37 disebutkan bahwa mereka yang mendengar khotbah Petrus menjadi sangat terharu. Kata terharu dari kata “katanusso” yang menggambarkan respon emosional yang sangat kuat dan mendalam, seolah-olah hati tersayat oleh kebenaran, tersadar oleh kesalahannya yang memicu pertobatan atau perubahan hidup dan karena itu dalam ayat 37 bagian akhir mereka bertanya tentang apa yang harus mereka perbuat.

Ayat 38-40 Petrus menjawab bahwa, hal yang perlu mereka lakukan ialah:

1.      Bertobat. Kata ini dari kata ”metanoia” yang bermakna ada penyesalan yang disertai perubahan sikap ke arah yang benar.

2.      Memberi diri dibaptis dalam Nama Yesus Kristus, dan baptisan ini adalah sebagai bentuk pengampunan dosa supaya mereka akan menerima karunia Roh Kudus. Ini bermakna bahwa baptisan Yesus adalah turut mengambil bagian dan kematian dan kebangkitan Kristus. Perhatikan bahwa teks ini tidak berbicara tentang bagaimana cara pembaptisan, melainkan ”Dalam Nama Yesus Kristus”.

Ayat 39 Petrus membuka pandangan iman bahwa keselamatan yang dianugerahkan Allah adalah bagi mereka yang mendengarkan khotbah Petrus di masa itu, tetapi juga bagi anak-anak mereka yang masih jauh yang dipanggil oleh Tuhan Allah kita. Hal tersebut merujuk kepada Gereja masa kini. Bahwa keselamatan itu juga berlaku bagi kita semua.

Petrus menyebut agar semua yang mendengarkan Firman tersebut dapat memberi diri untuk diselamatkan dari Angkatan yang jahat tersebut. Kata jahat ini bermakna dari orang-orang yang bengkok atau orang-orang yang tidak jujur.

Makna Teologis:

Teks Kis. 2:29-40 ini menunjukkan tentang kuasa Roh yang memampukan apa yang sebenarnya dianggap tidak mampu untuk dilakukan.

1.      Yesus Kristus melebihi ekspektasi umat Yahudi, jika mereka sangat membanggakan Daud yang hebat, maka sesungguhnya Yesus melebihi Daud.

2.      Jadilah saksi Kristus, yang tidak akan tergoncangkan oleh apapun sekalipun dunia meninggalkan kita dan sekalipun kita kehilangan banyak hal untuk mempertahankan iman yang benar.

3.      Hiduplah dalam pertobatan yang benar, yakni bahwa kita mau dibaharui sesuai dengan perkataan Firman Tuhan.

Saudaraku Firman ini mengingatkan kepada kita bahwa segala sesuatu yang kita pandang hebat di dunia ini, seperti orang Yahudi yang memandang hebat raja Daud, tidak akan pernah bisa melebihi kehebatan Allah di dalam Yesus Kristus. Dunia akan banyak menawarkan segala sesuatu yang berusaha membengkokkan jalan kita, tapi percaya dan hiduplah bertetap di dalam Yesus Kristus.

Saudaraku ketika orang-orang merasa tersentuh hati mereka ketika mendengar Firman Tuhan, maka respon yang tepat adalah seperti yang dilakukan orang-orang yang mendengar Khotbah Petrus. ”Apa yang harus kami perbuat?” Pertanyaan ini mengingatkan kita, bahwa Firman Tuhan menuntut respon tindakan dari semua yang mendengarkan Firman. Ada yang menolak, ada yang tersinggung, tapi ada juga yang menerima bahkan menunjukkan perubahan hidup.

 

Komentar