1 Yohanes 2:18-27 "AntiKristus" // MTPJ GMIM 3 SAMPAI 9 MEI 2026
MTPJ GMIM 3 - 9 Mei 2026
1 Yohanes 2:18-27
Kitab Surat Yohanes ditulis pada kisaran tahun 85-95 Masehi. Masa di mana orang Yahudi telah berada dalam masa yang kelam sebab pada tahun 70M Bait Allah di Yerusalem telah kembali dihancurkan. Ditambah lagi pada tahun 60an Masehi ketika orang Kristen dituduh sebagai penyebab dari kebakaran besar yang terjadi di Roma tentu menambah penderitaan besar dari orang percaya. Penulis kitab Surat Yohanes menyapa para pembacanya dengan sebutan ”anak-anak”, perkataan ini dimaksudkan kepada semua orang percaya. Tulisan ini dipercaya juga merupakan salah satu tulisan dari rasul Yohanes.
Surat 1 Yohanes ini menjadi surat penggembalaan untuk menguatkan umat percaya agar dapat mempertahankan iman kepada Yesus Kristus sekalipun banyak sekali ajaran sesat yang mau mengatakan bahwa Yesus bukanlah berasal dari Allah. Dalam perkembangan Kristen di abad mula-mula, ada ajaran yang sangat mempengaruhi di masa itu yaitu ajaran Gnostik. Suatu pengajaran yang berakar pada pengetahuan terutama tentang paham dualisme. Mereka percaya bahwa di dunia ini ada terang dan gelap serta baik dan jahat. Orang yang berbuat baik mereka adalah terang dan mereka inilah yang layak diselamatkan. Sementara dalam paham ajaran tentang Yesus ditekankan bahwa manusia diselamatkan bukan karena perbuatan terang atau perbuatan baiknya, melainkan karena kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus. Lantas bagaimana dengan perbuatan baik? Perbuatan baik adalah hal yang wajib dilakukan, namun perbuatan baik bukanlah untuk memperoleh keselamatan melainkan adalah bagian dari respon iman atas keselamatan di dalam Yesus Kristus, yakni untuk memuliakan Tuhan.
Dalam 1 Yohanes 2:18 menyebutkan tentang waktu yang terakhir. Kata waktu yang digunakan dalam teks ini berasal dari kata ”hora” yang bermakna suatu masa yang genting. Rasul Yohanes menggunakan “antikristus” atau “para antikristus” sebagai yang mewakili sosok yang menentang Allah dan tidak mengakui Yesus sebagai Kristus yang rohnya telah mulai bekerja sejak kebangkitan Yesus. Momen ini mengingatkan tentang masa di mana setiap orang di ajak untuk berjaga-jaga sampai kedatangan Yesus kembali. Namun, dalam pemahaman 1 Yohanes, antikristus telah datang ke dalam dunia. Jadi dia bukan figur yang dinantikan kedatangannya yang diyakini akan terjadi di akhir zaman. Selain itu, bukan hanya satu individu antikristus tetapi banyak antikristus (2:18).
Rasul Yohanes telah memberikan tanda-tanda tertentu dari roh antikristus yang sangat penting. Pertama-tama, bahwa hal itu dimulai dalam komunitas orang percaya sendiri “Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita”. (1 Yoh.2:19) Antikristus akan berasal dari para pengikut Kristus yang meninggalkan persekutuan dengan orang percaya yang sejati dan tidak lagi menempatkan Kristus sebagai Juru Selamat. Dua kemungkinan dapat menjadi penyebab kenyataan ini: mereka tidak pernah menjadi orang percaya yang sejati; atau mereka pernah memiliki hubungan yang menyelamatkan dengan Kristus tetapi namun akhirnya meninggalkan iman mereka pada Kristus Ini bukan berbicara soal waktu manusia di bumi yang akan berakhir namun tentang kesempatan bagi semua orang untuk datang kepada Yesus Kristus. Roh anti Kristus dalam dalam 1 Yohanes 4:3 menjelaskan adalah roh yang tidak mengaku bahwa Yesus berasal dari Allah dan penulis Surat Yohanes menyebut roh itu adalah roh yang menyesatkan.
Ciri kedua roh antikristus adalah menyangkal Yesus; menentang baik pribadi, pengajaran, serta kerajaan Kristus “Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak” (1 Yoh. 2:22). Roh antikristus membuat manusia menyangkali Yesus Kristus sebagai Anak yang berarti juga menyangkali Bapa karena Yesus dan Bapa adalah satu (lih. Yoh.10-30, Yoh. 17:21). Seperti halnya orang Yahudi yang menolak Yesus sebagai Mesias karena bagi orang Yahudi Kristus yang mati bukanlah Kristus, dengan demikian menolak inkarnasi Yesus bahwa Dialah Mesias yang telah datang sebagai manusia. Yohanes menjelaskan secara gamblang bahwa Yesus adalah Mesias yang menderita dan puncaknya ketika Dia disalibkan. PenderitaanNya tidak mendiskualifikasi-Nya sebagai Mesias, sebaliknya malahan membuat-Nya memenuhi syarat menjadi Mesias, karena Mesias yang sejati, raja yang sesungguhnya, rela menderita demi umatNya.
Yohanes memperingatkan supaya orang percaya waspada terhadap roh-roh yang mengaku sebagai yang diilhami, yang mengaku dan menamakan diri sebagai nabi-nabi, roh-roh itu haruslah diuji. Setiap roh yang mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia adalah berasal dari Allah dan sebaliknya setiap roh yang tidak mengakui hal ini adalah antikristus. Tanda disadari, roh antikristus telah menguasai segala sendi kehidupan manusia, kebenaran menjadi hal yang asing dan dihindari sedangkan dosa menjadi sesuatu yang biasa.
Penyesatan dan kemurtadan sedang terjadi. Rasul Paulus menggambarkan secara tepat keadaan manusia di akhir zaman dalam 2 Timotius 4; manusia tidak lagi mencintai kebenaran, mereka menentukan apa yang hendak di dengar hanya untuk memuaskan telinga semata (ay. 3); semakin jauh memalingkan diri dari kebenaran dan ajaran yang sehat (ay. 4). Yesus sendiri mengingatkan akan hal ini tentang akhir zaman seperti ditulis dalam Matius 24 “Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.” (ay.5). “Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang” (ay.11).
Perikop 1 Yohanes 2 mengandung petunjuk bagaimana orang percaya harus menyikapi perkembangan di era post-modernisme dan bagaimana bertahan hingga akhir dalam iman kepada Yesus Kristus.
1. Pertama-tama haruslah memiliki pengurapan dari Yang Kudus (ay. 20). Dengan memiliki pengurapan Kristus, orang percaya dimeteraikan dan memiliki Roh Kudus sebagai jaminan atas semua penyediaan Allah (lih.2 Kor.1:21-22). Roh Kudus yang akan mengajarkan dan menuntun orang percaya kepada kebenaran (Yoh.14:26; 16:13). Dengan pengurapan Kristus, orang benar akan dapat mengtahui bagaimana membedakan mana yang dari Roh Allah dan mana yang dari roh antikristus.
2. Kedua, haruslah tinggal dalam pengajaran yang benar (ay. 24). Firman Allah harus menjadi pedoman tertinggi dalam kebenaran dan menjadi standar kelakuan. Pengajaran yang benar dan Alkitabiah adalah yang berdiri atas dasar para rasul, para nabi, dengan Kristus sebagai batu penjuru (lih. Ef.2:20). Tidak ada pengajaran yang benar tanpa Yesus Kristus sebagai dasar. Tinggal di dalam pengajaran yang benar dan Alkitabiah berarti tinggal di dalam Anak dan tinggal di dalam Bapa juga dalam janjiNya akan hidup yang kekal (ay. 24-25). Yang dimaksud hidup kekal yaitu terdapat pengenalan akan satu-satunya Allah yang benar, dan pengenlaan akan Kristus sebagai satu-satunya yang diutus Bapa (lih. Yoh.17:3).
Dengan Roh Kudus dan Firman orang percaya akan sanggup mengenali dan membentengi diri dari roh antikristus. Tumbuh dalam pengajaran dan dalam kasih (lih. Rm.12:10), saling menegur dan membangun (lih.1 Tes.5:11), dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat (lih. Ibr.10:25).
|
Senin, ayat 20 HIDUPLAH SEBAGAI ORANG VANG TELAH BEROLEH PENGURAPAN
“Pengurapan” dipahami sebagai karya Roh Kudus yang diam dalam diri orang percaya. Manusia tidak lagi dipahami hanya sebagai makhluk rasional atau moral, melainkan sebagai pribadi yang telah disentuh oleh kehadiran ilahi. Pengurapan menjadi tanda bahwa hidup manusia kini berakar pada Roh, bukan lagi semata pada daging atau naluri lama. Ini adalah pergeseran dari hidup yang berpusat pada diri, menuju hidup yang berpusat pada Allah. Pengurapan bukan sekadar status, tetapi dinamika hidup yang terus membentuk hati nurani dan cara berpikir.Akhirnya, hidup sebagai orang yang telah beroleh pengurapan berarti hidup dalam kesadaran bahwa kita tidak berjalan sendiri. Ada kehadiran ilahi yang membimbing, mengajar, dan menguduskan. Hidup seperti ini bukan hidup yang sempurna tanpa kesalahan, tetapi hidup yang terus diarahkan, dibentuk, dan diperbarui oleh Roh.
|
Selasa, ayat 21 TIDAK ADA DUSTA YANG BERASAL DARI KEBENARAN
Kebenaran dan dusta tidak mungkin berasal dari dua sumber yang sama, sebab keduanya merupakan realitas yang berbeda. Dalam Injil Yohanes 14:6, Yesus berkata bahwa Ia adalah “jalan dan kebenaran dan hidup.” Artinya, kebenaran bersifat personal, hidup, dan ilahi. Maka jika Allah adalah sumber kebenaran, segala sesuatu yang lahir dari-Nya akan mencerminkan terang, kejujuran, dan keselarasan dengan realitas sejati. Dusta, sebaliknya, tidak memiliki akar dalam Allah—ia adalah distorsi, penyimpangan, bahkan pemberontakan terhadap kebenaran itu sendiri. Dusta bukan hanya kesalahan moral, tetapi juga keretakan relasi. Ia memutus manusia dari sumber kebenaran, menciptakan ilusi yang menipu hati dan pikiran. Ketika manusia hidup dalam dusta, ia bukan sekadar salah berkata, tetapi sedang menjauh dari terang kebenaran. Firman ini mengajak kita untuk kembali kepada sumber kebenaran itu sendiri. Sebab hanya dengan tinggal di dalam kebenaran, manusia dapat hidup utuh—tanpa kepura-puraan, tanpa topeng, dan tanpa ketakutan. Karena di dalam terang kebenaran, tidak ada ruang bagi dusta untuk bertumbuh.
|
|
Rabu, 1 Yohanes 2:22-23 MENYANGKAL YESUS KRISTUS ADALAH ANTIKRISTUS
sejauh mana kita sungguh mengenal dan mengakui Kristus, bukan hanya dengan kata, tetapi dengan keberadaan kita? Sebab mengakui Kristus berarti masuk dalam relasi dengan Dia, hidup dalam terang-Nya, dan membiarkan hidup kita menjadi kesaksian dari kebenaran itu. Menyangkal Kristus tidak selalu berarti mengatakan “Aku tidak percaya,” tetapi bisa terwujud dalam hidup yang tidak mencerminkan Dia. Ketika kasih digantikan oleh kebencian, ketika kebenaran dikompromikan oleh kepentingan, ketika iman hanya menjadi formalitas—di situlah penyangkalan itu mengambil bentuk nyata.
|
Kamis, 1 Yohanes 2: 24-25 JANJI HIDUP YANG KEKAL
Kekekalan dalam kekristenan bukan sekadar hidup lebih lama, tetapi hidup dalam kepenuhan relasi dengan Allah—suatu keadaan di mana manusia mengalami kebenaran, kasih, dan damai secara utuh. Dalam Injil Yohanes 17:3, hidup kekal bahkan didefinisikan sebagai “mengenal Allah yang benar dan Yesus Kristus yang diutus-Nya.” Maka, kekekalan dimulai bukan setelah kematian, tetapi sejak manusia masuk dalam relasi dengan Allah di masa kini. idup di dunia sering kali diukur dengan kronologi—awal, proses, dan akhir. Namun janji hidup kekal memperkenalkan dimensi yang melampaui sekadar waktu linear. Ia memberi makna pada setiap momen sekarang, karena setiap tindakan, pilihan, dan relasi memiliki resonansi kekal.“janji hidup yang kekal” bukan hanya tentang masa depan, tetapi tentang arah hidup sekarang. Ia adalah undangan untuk hidup dengan kesadaran bahwa kita dipanggil untuk sesuatu yang lebih besar dari sekadar keberadaan sementara—yaitu persekutuan abadi dengan Allah, di mana hidup menemukan makna terdalamnya dan tidak lagi berakhir dalam kefanaan, melainkan dalam kekekalan yang penuh kasih.
|
|
Jumat, 1 Yohanes 2:26 DITULISKAN UNTUK KAMU AGAR TIDAK DISESATKAN
Manusia adalah makhluk yang mencari kebenaran, tetapi juga rentan terhadap ilusi dan penipuan. Kesesatan bukan hanya kesalahan intelektual, melainkan kondisi eksistensial di mana manusia kehilangan arah. Maka Firman tertulis yang diberikan bukan sekadar informasi, melainkan transformasi: ia memampukan manusia untuk hidup dalam kebebasan dari kebohongan. Di sini terlihat bahwa kebenaran dalam iman Kristen bersifat relasional dan membebaskan, bukan sekadar teoritis. Allah tidak membiarkan manusia berjalan dalam kegelapan tanpa arah. Ia menyediakan firman sebagai penuntun, sebagai terang di tengah kebingungan. Tetapi terang itu harus direspons—dibaca, direnungkan, dan dihidupi. Sebab tujuan dari “yang dituliskan” bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk menjaga hidup tetap berada di jalan kebenaran, sehingga manusia tidak kehilangan arah dalam perjalanan imannya.
|
Sabtu, PENGAJARAN-NYA BENAR TIDAK DUSTA, TINGGALLAH DI DALAM YESUS
Yesus bukan hanya penyampai ajaran, tetapi sumber kebenaran itu sendiri. “Tinggal” di sini bukan tindakan sesaat, melainkan keadaan berkelanjutan—sebuah keterhubungan yang intim, di mana hidup manusia berakar dan bertumbuh dalam Kristus.Apakah kita hanya mengagumi pengajaran Yesus sebagai kebenaran, atau sungguh hidup di dalam-Nya? Sebab tinggal di dalam Kristus berarti membiarkan pengajaran-Nya membentuk pikiran, sikap, dan tindakan kita. Ini adalah hidup yang terus-menerus diselaraskan dengan kebenaran, bukan sekadar sesekali disentuh olehnya.
|

Komentar
Posting Komentar