Kisah Para Rasul 10:34-43 "Petrus dan Kornelius" // MTPJ GMIM 19 April - 25 April 2026

 

MTPJ 19 April sampai 25 April 2026

Kisah Para Rasul 10:34-43 (Petrus Dan Kornelius)

Kisah Para Rasul 10:34-43 merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ayat sebelum dan sesudahnya. Malaikat Tuhan menjumpai seorang yang bernama Kornelius, ia adalah seorang perwira yang disebut pasukan Italia. Hal tersebut diceritakan dalam ayat 1 terjadi di Kaisarea yang merupakan sebuah kota penting pusat pemerintahan Romawi di wilayah Yudea. Dalam teks Yunani kata perwira menggunakan kata ”centurion” yang bermakna pemimpin sekitar seratus tentara. Ketika disebut pasukan Italia itu bermakna bahwa Kornelius bukan dari bangsa Israel khususnya Yahudi. Meski demikian ayat 2 justru menyebut bahwa Kornelius dan keluarganya merupakan orang yang saleh, takut akan Tuhan, memberi banyak sedekah bagi umat Yahudi bahkan senantiasa berdoa kepada Allah.

Sebelum lebih lanjut mengenai Kornelius, mari terlebih dahulu kita diingatkan bahwa, sebenarnya hubungan bangsa Romawi atau non Yahudi tidak begitu akrab dengan bangsa Yahudi. Bangsa Yahudi tidak mengakui bahwa keselamatan yang Allah berikan juga diberikan bagi orang-orang yang berasal dari luar Yahudi, bisa dikatakan bahwa ibarat makanan maka bangsa Yahudi akan menganggap orang-orang yang diluar Yahudi adalah bangsa yang tidak layak.

Petrus salah satu murid Yesus yang juga dijadikan sebagai rasul atau utusan Allah, mendapatkan penglihatan bahwa ia harus memakan sesuatu yang seharusnya adalah makanan haram, namun justru dalam ayat 15 menyebut bahwa ”apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram”. Petrus sebenarnya bertanya-tanya tentang apa arti penglihatan tersebut, namun ketika ia bertemu dengan Kornelius, barulah ia memahami bahwa maksud penglihatan tersebut adalah untuk mengingatkan bahwa ia ternyata dipersiapkan oleh Tuhan Allah untuk menyampaikan Injil justru kepada orang yang dianggap tidak layak karena bukan keturunan Yahudi.

Oleh karena itu ayat 34-35 Petrus mulai dengan pernyataan ”aku telah mengerti bahwa Allah tidak membedakan orang”, pernyataan ini bermakna bahwa keselamatan bukan hanya diperuntukkan bagi satu bangsa saja, melainkan bagi semua orang yang takut akan Tuhan dan mengamalkan kebenaran, berkenan kepada Tuhan. Saudara-saudara, justru dari pernyataan Petrus juga mengetuk semua yang membaca bagian Firman ini bahwa terkadang ada orang yang mengaku takut akan Tuhan tapi justru tidak mengamalkan nilai-nilai kebenaran, atau mungkin ada orang yang merasa diri telah mengamalkan nilai-nilai kebenaran tapi justru tidak percaya kepada Tuhan atau tidak takut akan Tuhan. Firman ini dengan jelas mengingatkan bahwa takut akan Tuhan juga harus sejalan dengan sikap hidup yang benar, dengan demikian pula sebaliknya bahwa sikap hidup yang benar seharusnya didasari oleh hidup yang takut akan Tuhan, sebab akhir-akhir ini banyak orang yang lebih membenarkan sisi kemanusiawian tapi mengabaikan Firman Tuhan, mengatasnamakan kebaikan dan kebenaran dalam perspektif manusiawi tapi sebenarnya tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.

Contohnya apa? Mari kita lihat, banyak orang yang mengatasnamakan sisi kemanusiaan justru memberi ruang kepada kaum LGBT untuk semakin menunjukkan prilaku seks menyimpang, dan sesungguhnya ini sudah bukan lagi hal yang tidak mudah ditemukan dimana-mana. Peringatan Firman Tuhan jelas mengingatkan semua orang untuk menjauhi prilaku tersebut, maka anak-anak muda hendaknya laki-laki bersikap sebagaimana laki-laki dan perempuan bersikaplah sebagaimana perempuan, ini pun adalah tugas Gereja untuk terus mengingat-ingatkan hal ini terhadap kaum muda. Akan tetapi bukan berarti bahwa kita harus menjauhkan diri dari orang-orang yang demikian, sebab justru adalah tugas Gereja untuk mengingatkan agar semua orang dapat kembali kepada kodratnya. Allah tidak memberi otoritas bagi kita untuk menghakimi, tapi Allah juga tidak mengijinkan kita untuk melonggarkan kebenaran demi alasan sisi kemanusiaan.

Saudara-saudara marilah kita kembali ke teks Kisah Para Rasul pasal 10. Dalam ayat 36-43 Petrus dengan berani menceritakan kepada Kornelius tentang siapa Yesus Kristus itu. Beberapa hal yang perlu digaris bawahi tentang Yesus menurut iman Petrus adalah:

-          Ayat 36 Petrus menyebut bahwa: Yesus adalah Tuhan dari semua orang.

-          Ayat 38 Petrus menyebut bahwa: Allah mengurapi Yesus dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Yesus berjalan berkeliling sambil berbuat baik, Yesus menyembuhkan semua orang yang dikuasai iblis sebab Allah menyertai Yesus. Jika kita membaca sekilas tentang bagian Firman ini mungkin kita akan merasa seperti Allah dan Yesus adalah dua sosok yang berbeda, namun justru jika ditarik dari bagian Perjanjian Lama “mengurapi” bermakna Dipilih dan ditetapkan oleh Allah untuk suatu tugas khusus, sementara Allah “menyertai” Yesus bermakna pelayanan Yesus bukan sekadar usaha manusia, tetapi manifestasi langsung dari kehendak Allah. Ini semakin menguatkan bahwa Allah dan Yesus bukan dua sosok yang berbeda sebab justru segala pekerjaan yang dilakukan Yesus adalah pekerjaan-pekerjaan dari Allah sendiri. Yesus adalah Sang Raja, Sang Nabi sekaligus Sang Imam itu sendiri dan Dialah Tuhan Allah yang datang untuk memberitakan damai Sejahtera sebagaimana yang disebut dalam ayat 36. Kata damai Sejahtera ini berasal dari  teks Yunani “Eirene” yang sama artinya dengan dalam Bahasa Ibrani “Shallom”. Kata tersebut bukan hanya bermakna keadaan yang tenang, Makmur dan Bahagia, sebab kata tersebut juga bermakna “selamat atau beroleh keselamatan”. Inilah berita yang mau disampaikan bahwa Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus datang untuk memberikan keselamatan bagi semua orang.

-          Ayat 39-40 Petrus menyebut bahwa Yesus mati dan dibangkitkan pada hari yang ketiga serta telah menampakkan diri bukan kepada semua bangsa melainkan kepada Petrus dan murid-murid yang lain, bahkan Petrus menyebut dirinya sebagai saksi atas peristiwa tersebut. “Saksi” dalam teks ini berasal dari kata “martus” yang kemudian dari kata ini kita mengenal salah satu Tritugas Gereja yaitu ”marturia” yang artinya kesaksian dan bahkan dari kata martus ini juga kita mengenal kata “martir” yaitu orang yang bersedia mati demi kesaksian yang dari apa yang ia yakini.

Mungkin kita bertanya bahwa mengapa Allah hanya menyatakan diri kepada Petrus dan Kawan-kawannya, mengapa tidak kepada semua orang di dunia? Jawabannya adalah di dalam ayat 41 bahwa Allah telah menunjuk atau Allah telah menetapkan orang-orang untuk menjadi saksi-saksi. Dan tugas para saksi dalam ayat 42 ialah bahwa untuk memberitakan kepada semua bangsa bahwa Yesus adalah Hakim terhadap semua orang baik yang hidup maupun yang sudah meninggal. Hidup yang dimaksudkan adalah tentang kehidupan yang tidak dapat binasa, sedangkan meninggal yang dimaksudkan adalah tentang kematian karena Kesia-siaan. Ini berarti bahwa Yesus memiliki kuasa atas dua hal tersebut, manusia dapat memiliki kehidupan yang tidak dapat binasa karena Yesus, tetapi manusia juga bisa mati ketika tidak memiliki hidup bersama Yesus Kristus.

Oleh karena itu dalam ayat 43 Petrus menyebut bahwa Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya. Ini bermakna bahwa keselamatan di dalam Yesus Kristus itu terbuka bagi semua orang yang mau percaya. Keselamatan tentang pengampunan dosa, itu berarti bahwa orang percaya kepada Yesus akan terhindar dari kematian yang sia-sia atau kematian kekal sebab upah dosa adalah maut, tapi bagi orang yang percaya kepada Yesus maka orang tersebut pasti memiliki hidup.

Saudara-saudaraku, segala ungkapan Petrus tersebut pertama-tama ditujukan kepada Kornelius. Seorang yang dianggap tidak layak diselamatkan karena bukan keturunan Yahudi namun justru menjadi layak bukan karena statusnya tetapi karena anugerah Allah yang melihat Kornelius adalah sosok yang mau taat dan percaya kepada Allah sehingga kepadanya berita tentang Yesus disampaikan.

Catatan dalam keseluruhan Kitab Kisah Para Rasul ini sebenarnya ditulis oleh dokter Lukas untuk disampaikan kepada Teofilus sebagai kelanjutan dari Kitab Injil Lukas. Teofilus dianggap sebagai seorang yang dapat menjaga dokumen Kitab Lukas dan Kisah Para Rasul, namun secara harafiah Teofilus juga bermakna ”sahabat-sahabat Allah”, itu berarti kitab ini ditujukan kepada semua orang percaya. Kitab ini ditulis pada masa di mana orang Yahudi hidup dalam situasi politik dan sosial yang tegang di bawah kekuasaan Romawi. Di tahun itulah Gereja mula-mula mulai berkembang. Dalam situasi di mana orang Yahudi tertekan oleh kekuasaan Romawi, namun justru Firman Tuhan datang memberi pesan bahwa Allah datang bukan hanya bagi orang Yahudi, tetapi kepada semua orang.

Saudara-saudara, ketika Firman Tuhan ini dibacakan bagi kita semua, maka apa pesan Firman ini bagi kita?

Firman ini dengan jelas mengingatkan kita semua tentang beberapa hal:

Yang pertama, Jangan pernah membeda-membedakan diri dengan orang lain, mengganggap kita berharga dan orang lain tidak layak. Lihatlah cara Allah memakai Petrus, jika Petrus hanya mengikuti logikanya saja mungkin ia tidak akan menyampaikan Firman kepada Kornelius yang bukan keturunan Yahudi. Tetapi Allah membuat Petrus menyadari bahwa kita semua sama dimata Tuhan, sama-sama telah ditebus, sama-sama dan diselamatkan, maka janganlah kita membuat perbedaan di antara kita, apakah itu dilihat dari harta, jabatan dan lain sebagainya.

Yang kedua, Hiduplah takut akan Tuhan dan amalkan kebenaran, sebab hal-hal tersebut berkenan kepada Allah. Ingat bahwa, memang perbuatan benar kita tidak dapat menyelamatkan kita, sebab keselamatan itu hanya berasal dari Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus, namun kita harus hidup berbuat benar karena hal itu berkenan di hadapan Allah.

Yang ketiga, tugas kita sebagai seorang yang diberikan kepercayaan untuk melanjut-lanjutkan kesaksian Petrus dan para rasul tentang siapa Yesus. Ketika kita mengaku dengan iman bahwa kita percaya Yesus adalah Tuhan Allah itu sendiri yang menjadi manusia rela mati bagi dosa-dosa kita dan bangkit mengalahkan maut, maka sekarang kita disebut sebagai saksi. Ingat, saksi bukan sekedar orang yang menyampaikan apa yang benar, tapi saksi adalah orang yang bahkan siap mati tentang apa yang ia yakini. Maka, bersediakah kita untuk mati dan bangkit dalam Kristus? Seperti ungkapan pujian yang mengatakan ”Hai Bangkit Bagi Yesus Pahlawan Salib-Nya.....”.

Ingat bahwa, kesaksian tentang Yesus bukan sekedar ungkapan mengenai berkat-berkat yang kita peroleh, sebab kesaksian tentang Yesus harus justru terlihat dalam sikap hidup yang menunjukkan tentang kebenaran. Sikap-sikap yang bukan karena ada maunya barulah menunjukkan hal yang baik kepada orang lain. Ingat, kebenaran tidaklah dapat dibatasi pada logika manusia, melainkan kepada kehendak Allah. Sebagaimana Tema GMIM Bulan ini : Spiritualitas Kebangkitan Yesus KRistus Menggerakkan Gereja Untuk Melayani Mewujudkan Tanda-Tanda Kerajaan Allah. Bahkan tema minggu ini bahwa Orang Yang Takut Akan Dia Dan Yang Mengamalkan Kebenaran Berkenan Kepada-Nya.

Tuhan Yesus memberkati torang samua, amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lukas 17:11-19 "Kesepuluh Orang Kusta" Renungan GMIM Edisi 4 - 10 Juli 2021

Renungan Roma 2:1-16

2 Tesalonika 1:3-12 "Ucapan Syukur Dan Doa" // MTPJ 27 Juli 2025